Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Monday, December 28, 2015

Keindahan Candi Jawi di Pandaan

Apa kabarnya sobat pembaca semuanya? Semoga dalam keadaan sehat wal afiat.

Kebetulan pada pertengahan Desember 2015, saya mampir ke Candi Jawi di Pandaan, sepulang dari Pacet-Mojokerto. Sebetulnya sudah beberapa kail saya melewati candi ini, bila kebetulan ada rute ke Tretes, tapi baru saat ini saja masuk ke dalamnya. Posisi candi ini tepat di pinggir jalan raya Pandaan ke Tretes, jadi mudah untuk diakses.

Konon kabarnya candi ini dibangun pada era kerajaan Singhosari, dengan pengaruh arsitektur Buddha-Hindu Siwa. (Baca juga kisah sejarah kerajaan Singhosari : tahta-berdarah-singhasari)

Ok, mari kita lihat keindahan candi ini dalam fofo-foto berikut, check this out gaesss …

Tampak depan Candi Jawi dan papan namanya, terlihat pagar dari bata merah di sekelilingnya

Tampak samping candi, terlihat kombinasi bahan batu, dari batu hitam (andesit) dan batu putih (kapur)

 
Tampak belakang candi, terlihat cantik berpadu dengan langit biru yang berawan

Kolam ikan di sekeliling candi, dengan bunga teratai, terlihat cantik mempesona

Pahatan patung batu di sisi samping tangga

Pintu masuk ke ruang dalam candi

Ruang kecil untuk patung, sayang patungnya sudah tidak ada

Dudukan patung di ruang dalam candi, sayang sekali, patungnya juga sudah tidak ada




Jangan lupa untuk berfoto narsis

Gimana gaes, indah bukan candi ini? Buat yang tertarik, segera saja meluncur ke lokasi, ok?

See you again in the next articles.

Baca juga tulisan menarik lainnya :


Terimakasih.

Wassalam.

Phone/Whatsapp : +6281331122195
Email : little.wawan@gmail.com
Twitter : @little_wawan
Facebook : littlewawanblogger


Wednesday, August 26, 2015

Tahta berdarah Singhasari (2)

Sambungan dari tulisan sebelumnya 
tahta-berdarah-singhasari 

Patung Ken Dedes - sumber : wikipedia


Berdirinya Kerajaan Tumapel / Singhasari 

Kemudian Ken Arok mengangkat dirinya sebagai akuwu Tumapel, menikahi Ken Dedes, meskipun sedang hamil putranya Tunggul Ametung.
Saat itu Tumapel adalah kecamatan dibawah kekuasaan kerajaan Kediri. Ken Arok berencana melepaskan Tumapel dari Kediri. Ken Dedes melahirkan putranya dari pernikahan dengan Tunggul ametung, diberi nama Anusapati, tahun 1222. Sedangkan dari Ken Arok, kelak Ken Dedes punya 4 orang anak, yaitu Mahisa Wonga Teleng,Panji Saprang, Agnibhaya, & Dewi Rambi.
Kebetulan di Kediri ada perseteruan antara Raja Kertajaya (= Prabu Dandhang Gendhis) dengan para pendeta Hindu & Buddha. Kertajaya minta dirinya disembah seperti dewa. Sang raja memamerkan kesaktiannya dengan duduk diatas tombak yang berdiri, tapi para pendeta tetap tidak mau menyembahnya, kemudian mereka pindah ke Tumapel untuk minta perlindungan.
Atas restu para pendeta Ken Arok mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi, wilayah tumapel dinyatakan lepas dari Kediri sebagai kerajaan baru, ibukotanya di Singhasari, sehingga sering disebut juga sebagai Kerajaan Singhasari.
Raja Kertajaya tidak takut terhadap pemberontakan ini, dia berkata bahwa yang bisa mengalahkan dirinya cuma Dewa Siwa (=Bhatara Guru), maka Ken Arok juga memakai gelar Bhatara Guru. Perang Kediri & Singhasari terjadi di dekat desa Ganter. Panglima Kediri, Mahisa Walungan (adik Kertajaya) & Gubar Baleman tewas di tangan Ken Arok. Raja Kertajaya lalu melarikan diri dan menghilang dalam sebuah candi, dikabarkan dirinya sudah moksa (masuk ke alam gaib).
Kediri kini statusnya menjadi kadipaten di bawah kekuasaan Singhasari, putra Kertajaya bernama Jayasabha diangkat sebagai adipati. Tidak diduga, kelak keturunan Jayasabha yang bisa meruntuhkan kerajaan Singhasari. Namun ada versi berbeda bahwa adipati Kediri dipegang oleh putra tertua Ken Arok-Ken Dedes yang bernama Mahisa Wonga Teleng, bergelar Bhatara Parameswara.
Mengenai kekuasaan di Kediri pada era ini, kemungkinan juga terjadi pertumpahan darah antara anak-anak Ken Arok. Tidak lama Mahisa Wonga Teleng wafat, sedangkan putranya masih kecil,sehingga sementara tahta Kediri dipegang oleh adik kandungnya,Agnibhaya. Namun tidak lama tahtanya direbut oleh Tohjaya. Tohjaya adalah putra tertua Ken Arok dengan Ken Umang. Pergantian kekuasaan di Kediri seperti tidak ada habisnya.

Pembunuhan Ken Arok

Karena Anusapati adalah anak tiri, Ken Arok kurang menyayanginya. Anusapati juga merasa iri pada Mahisa Wonga Teleng yang diberi tahta adipati Kediri. Anusapati akhirnya tahu bahwa Ken arok lah pembunuh ayah kandungnya. Anusapati berhasil memperoleh keris sakti Mpu Gandring yang disimpan ibunya, Ken Dedes. Ia berniat memakai keris sakti itu untuk membunuh ayah tirinya, Ken Arok, yang juga terkenal sakti.
Anusapati memerintahkan seorang pengalasan (prajurit kerajaan) dari desa Batil untuk melaksanakannya, dan tewaslah Ken Arok ditusuk dari belakang, oleh kerisnya sendiri. Ken Arok adalah korban ke-4 keris Mpu Gandring. Kejadian ini terjadi tahun 1247, usia Ken Arok 65 tahun. Kemudian Anusapati membunuh pengalasan itu, supaya tidak diketahui siapa dalang pembunuhannya (korban ke-5).

Saling balas dendam penguasa Singhasari

Kekuasaan kerajaan Singhasari diteruskan oleh Anusapati, bergelar Raja Bhatara Anusapati. Karena kuatir pembalasan dendam oleh anak-anak Ken Arok, Anusapati mendirikan benteng & parit di sekeliling istananya, penjagaannya diperkuat. Sementara itu anak-anak Ken Arok akhirnya tahu bahwa dalang pembunuhan ayah mereka adalah Anusapati.
Tohjaya adalah anak tertua pasangan Ken Arok-Ken Umang, yang menjabat sebagai adipati Kediri, berniat membalas dendam kematian ayahnya, tapi dia tahu sulit untuk membunuh sang raja baru. Setelah memiliki keris Mpu Gandring, dia bersiasat dengan mengajak sang raja bertanding adu ayam, karena ini memang kegemaran sang raja. Saking asyiknya menonton adu ayam, sang raja tidak tahu bahwa Tohjaya sudah menyiapkan keris sakti. Anusapati pun tewas ditusuk keris itu (korban ke-6). Peristiwa ini terjadi tahun 1249, Anusapati menjadi raja hanya 2 tahun.
Sejak peristiwa ini keris sakti Mpu Gandring seolah menghilang, kabarnya dipendam di dalam Gn Kelud. Namun hal ini belum terbukti karena keberadaannya misterius.
Meskipun tahta Singhasari sedang kosong, tapi tidak ada bukti kuat bahwa Tohjaya menjadi raja disana, ada kemungkinan Tohjaya mengawasi pemerintahan dari Kediri. Tapi Tohjaya tidak bisa hidup tenang, karena dibayangi oleh pembalasan dendam oleh anak Anusapati, yaitu Ranggawuni; juga dibayangi pembalasan dendam oleh anak Mahisa Wonga Teleng, yaitu Mahisa Campaka.
Raja Tohjaya lalu memerintahkan prajuritnya bernama Lembu Ampal untuk menghabisi Ranggawuni & Mahisa Campaka, namun tidak berhasil, karena mereka dilindungi oleh Panji Patipati, seorang pejabat istana. Karena takut dihukum karena kegagalannya, Lembu Ampal bergabung dengan kelompok Ranggawuni-Mahisa Campaka, memberontak terhadap kekuasaan Tohjaya. Setelah badannya tertusuk tombak, Tohjaya melarikan diri, akhirnya wafat di desa Katang Lumbang-Pasuruan. Peristiwa ini terjadi tahun 1250.

Penyatuan kekuasaan Singhasari 

Kemudian tahta Singhasari dipegang oleh Ranggawuni (bergelar Wisnuwardhana) dan Mahisa Campaka (bergelar Narasinghamurti). Dengan adanya kekuasaan bersama ini, tercipta perdamaian antara cucu Tunggul Ametung & cucu Ken Arok. Pemerintahan bersama ini terjadi sampai tahun 1272, atau selama 22 tahun.
Setelah Ranggawuni wafat, penggantinya adalah putranya, bernama Kertanegara, hasil pernikahan dengan Waning Hyun (putrinya Mahisa Wonga Teleng). Bisa dibilang bahwa Kertanegara memiliki garis keturunan Tunggul Ametung & Ken Arok sekaligus.

Peta kekuasaan Singhasari pada era Kertanegara - sumber : wikipedia

Selama pemerintahan Kertanegara, kerajaan Singhasari mencapai jaman keemasannya, wilayah kekuasaanya meliputi Jawa, Melayu sampai Maluku. Tujuannya untuk menahan gempuran tentara Mongol yang sudah menguasai dunia (dari Timur Tengah sampai Rusia).
Demikian tulisan kami mengenai pertumpahan darah yang terjadi pada masa kekuasaan kerajaan Singhasari, yang dirangkum dari catatan sejarah yang terdapat dalam naskah-naskah kuno seperti Pararaton, Negarakertagama, juga Prasasti Mula Malurung. Memang terdapat banyak catatan yang saling bertolak-belakang antara naskah-naskah kuno itu, kami coba satukan sesuai logika, dan ada kemungkinan faktanya tidak terjadi seperti tulisan diatas. Untuk itu mohon kami dikoreksi lewat komentar sobat pembaca blog Little Wawan.

Foto patung Ken Dedes di dekat candi
Terimakasih.

Wassalam.

Phone/Whatsapp : +6281331122195
Email : little.wawan@gmail.com
Twitter : @little_wawan
Facebook : littlewawanblogger

Tulisan sebelumnya :

Tahta berdarah Singhasari

Foto Candi Singhasari

Assalamu alaikum wr wb.

Prolog

Gimana kabarnya sobat pembaca & peminat cerita sejarah sekalian, dalam keadaan sehat kan?
Mengawali tulisan disini, blog Little Wawan akan mengangkat kisah kerajaan Singhasari (=Singasari / Singosari) yang penuh pertumpahan darah. Justru karena banyak pertumpahan darah dalam perebutan tahtanya, cerita ini menjadi menarik dikisahkan.
Sebelumnya penulis berkesempatan mengunjungi situs peninggalan Singhasari, bulan Juli 2015, di dekat kota Malang. Situs yg dikunjungi yaitu Candi Singasari, lokasi di daerah Tumapel. Candi ini memakai bahan batu hitam (andesit) yang ditumpuk dan penuh ukiran. Tangga naik ada di satu sisi, langsung menuju ruang utama. Di sisi yang lain ada ruang-ruang kecil untuk patung. Menurut catatan sejarah candi ini dibangun pada masa pemerintahan terakhir raja Singhasari, yaitu Kertanegara.
Bila melihat letak geografisnya, candi ini menghadap Gn Arjuno. Kabarnya gunung ini merupakan tempat persemayaman para pertapa Hindu & Buddha, pada saat itu.

Si cantik Ken Dedes & Akuwu Tunggul Ametung 

Ok, kisah ini bermula dari sosok gadis cantik bernama Ken Dedes, putri dari seorang pendeta bernama Mpu Purwa, tinggal di desa Panawijen. Saking cantiknya, seorang akuwu (=camat) dari Tumapel bernama Tunggul Ametung, langsung jatuh cinta saat berkunjung ke kediaman sang pendeta. Tapi sayang keinginan untuk mempersunting Ken Dedes tidak bisa diterima saat itu, karena bapaknya sedang pergi jauh.
Tunggul Ametung tidak sabar lalu menculik sang gadis cantik untuk dibawa ke istananya di Tumapel. Saat Mpu Purwa pulang ke rumah, dia menjadi marah, karena putrinya telah diculik. Dia marah juga pada warga desa Panawijen, karena tidak memberinya kabar mengenai penculikan ini.
Mpu Purwa mengutuk sumur di desa ini akan kering. Mpu Purwa juga mengutuk penculik putrinya akan mati tertusuk keris. Tunggul Ametung tidak sadar adanya kutukan ini, lalu menikahi secara paksa si cantik Ken Dedes di Tumapel.

Ken Arok & asal-usulnya

Di Tumapel, Tunggul Ametung memiliki seorang pengawal bernama Ken Arok (=Ken Angrok). Melihat kecantikan Ken Dedes, sang pengawal ikut jatuh cinta. Siapakah sebenarnya tokoh Ken Arok ini, gimana asal-usulnya?
Ken Arok adalah putra dari pasangan Gajah Para & Ken Endok, di desa Campara-Blitar. Namun sebenarnya Ken Arok merupakan hasil perselingkuhan sang ibu dengan pembesar kerajaan Kediri, ada kemungkinan adalah raja di Kediri. Mengetahui perselingkuhan ini Gajah Para menceraikan istrinya, disaat mengandung.
Tahun 1182 Ken Arok lahir, namun dibuang di pekuburan, untuk menutupi aib sang ibu. Bayi ini kemudian dipungut oleh seorang pencuri, namanya Lembong. Dibawah asuhannya, Ken Arok tumbuh menjadi pencuri & penjudi. Karena Ken Arok banyak hutang karena berjudi, Lembong mengusirnya.
Lalu ia diasuh oleh seorang penjudi bernama Bango Samparan di desa Karuman-Blitar. Karena tidak cocok dengan istri tua Bango Samparan, Ken Arok lalu minggat dan bertemu dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng-Malang.
Mereka berdua menjadi perampok yang terkenal di seluruh daerah kerajaan Kediri. Ken Arok menikah dengan Umang, putrinya Bango Samparan. Kelak dari pernikahan ini lahir 4 orang anak, mereka yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola, Dewi Rambi.
Kemudian di Tumapel, Ken Arok bertemu dengan pendeta dari India bernama Lohgawe. Lohgawe melihat bahwa Ken Arok adalah titisan Dewa Wisnu, yang selama ini dia cari. Lohgawe menyarankan Akuwu Tunggul Ametung untuk mempekerjakan Ken Arok sebagai prajurit Tumapel.

Ken Arok & keris sakti Mpu Gandring

Alkisah Ken Arok sedang mengawal majikannya, Tunggul Ametung & Ken Dedes berburu di hutan. Sewaktu Ken Dedes turun dari kereta, kainnya tersingkap, sehingga Ken arok bisa melihat selangkangan Ken Dedes yang bercahaya. Ken Arok menanyakan hal ini pada pendeta Lohgawe, hal ini adalah pertanda bahwa anak keturunan Ken Dedes akan menjadi raja-raja. Ken Arok yang memang sudah jatuh cinta dengan Ken Dedes, bertekad merebut istri majikannya itu. tapi itu tidak mudah karena Tunggul Ametung terkenal kesaktiannya yang kebal senjata.
Atas saran Bango Samparan, Ken Arok lalu menemui Mpu Gandring yang terkenal sebagai pembuat keris sakti dari desa Lulumbang-dekat Wlingi Blitar. Ken arok minta dibuatkan keris sakti yang dapat membunuh orang kebal senjata. Mpu Gandring menyanggupi penyelesaian keris setahun, bahannya dari logam yang jatuh dari luar angkasa (= meteor). Tapi Ken Arok minta diselesaikan dalam 5 bulan. 5 bulan kemudian, Ken Arok datang menemui sang mpu dan meminta kerisnya. Karena keris masih setengah jadi, Ken Arok merasa marah dan menikam Mpu Gandring.
Sebelum mati Mpu Gandring mengutuk keris itu akan membunuh 7 orang, termasuk membunuh Ken Arok juga. Kesaktian keris itu terbukti bisa membelah batu. Pembunuhan Tunggul Ametung Pulang ke Tumapel, Ken Arok menunjukkan keris sakti itu pada rekan prajurit Tumapel, Kebo Ijo. Karena keistimewaan keris itu, Kebo Ijo ingin meminjamnya. Di hadapan teman-teman yang lain Kebo Ijo mengatakan bahwa dialah pemilik keris itu.
Ken Arok lalu mengajak Kebo Ijo pesta miras, saat dia sedang mabuk, Ken Arok mengambil kembali keris saktinya, lalu menyusup ke dalam kamar Tunggul Ametung. Tunggul Ametung sedang tertidur saat Ken Arok masuk, lalu ditusuklah sang akuwu hingga meninggal, ilmu kebalnya bisa ditembus oleh kesaktian keris Mpu Gandring. Tunggul Ametung korban ke-2 keris sakti.
Sebenarnya Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan itu, namun berkat rayuan Ken Arok, Ken Dedes bersedia menutupi siapa pembunuh suaminya. Justru Kebo Ijo lah yang menjadi tersangka pembunuhnya, karena semua temannya menganggap bahwa keris sakti yang membunuh sang akuwu adalah milik Kebo Ijo. Kebo Ijo pun dihukum mati dengan keris itu (korban ke-3).
Peristiwa ini terjadi tahun 1222, usia Ken Arok 40 tahun, usia Tunggul Ametung 37 tahun.

Bersambung ...
tahta-berdarah-singhasari-2 

Penulis ikutan foto di depan Candi Singhasari

Phone/Whatsapp : +6281331122195
Email : little.wawan@gmail.com
Twitter : @little_wawan
Facebook : littlewawanblogger

Tulisan sebelumnya :

Monday, July 13, 2015

Siapakah Sultan Pertama di Pulau Jawa ? (bag. 2)

Penggambaran sosok Raden Patah (sumber : wacananusantara.com)

 

Sambungan dari bagian-1

sultan-pertama-di-jawa

 

Naiknya kekuatan Demak & mundurnya Mojopahit


Demak bertumbuh semakin maju. Posisinya di pesisir banyak dikunjungi pedagang di seluruh nusantara. Pada masa pemerintahan Rd Patah, didirikan Masjid Agung Demak dan keraton didekatnya. Masjid agung menjadi pusat penyebaran Islam oleh para wali.

Kondisi berbeda terjadi pada kerajaan Mojopahit, mengalami kemunduran, banyak kadipaten yang memerdekakan diri, dan sudah tidak bisa dikuasai lagi.

Istana Raja Kertabumi mendapat serangan dari Ranawijaya untuk membalas kekalahan ayahnya dahulu saat perebutan kekuasaan Mojopahit. Kertabumi dan pengikutnya melarikan diri ke gunung Lawu dan sang raja moksa (menghilang secara gaib) di Candi Cetho. Kebenaran mengenai peristiwa moksa ini masih jadi perdebatan kebenarannya.

Ibukota kerajaan Mojopahit dipindah ke Daha (Kediri), Ranawijaya menjadi raja dengan gelar Prabu Natha Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Meskipun Rd Patah mengakui kekuasaan Ranawijaya sebagai penguasa Mojopahit, tapi sempat ada perang antara mereka karena Ranawijaya menjalin hubungan dekat dengan pihak Portugis yang saat itu sudah bercokol di Malaka (Malaysia).


Peta kekuasaan Demak (sumber : mbahrogo.wordpress.com)

Masjid agung Demak (sumber : tripadvisor.com)

Pengganti Raden Patah


Rd Patah wafat pada tahun 1518, usia 63 tahun. Diperkirakan penyebabnya karena sakit. Penggantinya adalah Raden Abdul Qadir alias Adipati bin Yunus alias Pati Unus, yang merupakan menantu Rd Patah. Pati Unus adalah putra Raden Muhamad Yunus.

Pati Unus cukup dikenal dalam sejarah karena keberaniannya memimpin pasukan gabungan dari Jawa, untuk menyerang Portugis yang sudah menguasai Malaka.

Kontroversi kisah Raden Patah


Sebenarnya kisah mengenai Rd Patah ada beberapa versi, dan kisah-kisah itu menimbulkan kontroversi.

1.       Misalnya mengenai pernikahan ibunya dengan Kertabumi. Dimana sang ibu adalah keturunan ulama Islam, mana mungkin menikah dengan raja beragama non-muslim? Apakah saat menikah sang pangeran menjadi mualaf?
2.       Mengenai sang ayah tiri, Adipati Palembang Arya Damar, ada versi yang menceritakan bahwa dia adalah putra Kertabumi juga. Mana mungkin ibu Rd Patah menikahi anak tirinya sendiri? Padahal sang ibu keturunan ulama Islam, pastinya tahu bahwa hal itu tidak mungkin. Lalu apakah ini tidak menimbulkan kekacauan silsilah Rd Patah dengan adik tirinya (Rd kusen) ?
3.       Mengenai gelar Sayyid pada Rd Patah, bila memang didapat dari garis keturunan sang ibu, bukankah seorang wanita sayyidah (syarifah) harusnya menikah dengan seorang sayyid, bukan dengan seorang pangeran non-muslim?
4.       Mengenai hubungan Rd Patah dengan ayahnya. Ada beberapa versi bahwa Rd Patah menyerang kerajaan Mojopahit untuk menggulingkan kekuasaan sang ayah. Bukankah saat itu Rd Patah memiliki kedekatan dengan para Sunan? Tidak mungkin mereka menyarankan Rd Patah untuk berbuat durhaka.

Demikian kisah Rd Patah yang telah tertulis dalam sejarah, namun ada beberapa versi yang bisa menimbulkan kontroversi, mungkin hal ini masih perlu dikaji lebih dalam oleh para ahli sejarah.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk sobat pembaca Littlewawan. Kami sadari bahwa tulisan ini masih ada kekurangan, jadi kami mohon kritiknya, bisa disampaikan dalam kolom komentar. Terimakasih.


Wassalam.

Phone/Whatsapp : +6281331122195
Email : little.wawan@gmail.com
Twitter : @little_wawan
Facebook : littlewawanblogger


Tulisan sebelumnya :
kisah ki ageng bungkul
masjid agung sunan ampel dan sejarahnya
touring to goa cina beach
pertempuran surabaya & museum tugu pahlawan
touring to dalegan beach

Siapakah Sultan Pertama di Pulau Jawa ?

Penggambaran sosok Raden Patah (sumber : wacananusantara.org)


Assalamu alaikum wr wb.

Bagaimanakah kabar sobat pembaca blog Littlewawan semuanya?  Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia.

Prolog


Setelah sebelumnya blog Littlewawan menulis artikel mengenai Sunan Ampel dan Ki Ageng Bungkul, kali ini kami akan menuliskan tokoh lain yang juga terkenal dalam sejarah Islam di Indonesia. Dialah Raden Patah, sultan pertama di pulau Jawa. Gimana kisah beliau? So let’s check this out bro!

Asal-usul Raden Patah


Raden Patah/Fattah dilahirkan di Palembang, diperkirakan pada tahun 1455. Masa kecilnya beliau dipanggil Jin Bun, nama etnis Cina. Lohh kok Cina? Iya bro, soalnya ibu beliau adalah keturunan Cina.

Supaya gak tambah bingung, kita telusuri satu-satu. Berawal dari kedatangan Laksamana Cheng Ho dari kekaisaran Cina di pulau Jawa. (kisah Cheng Ho bisa baca disini.sejarah-cheng-ho) Dalam rombongan itu ikut seorang ulama Islam dari Champa (Vietnam) bernama Syekh Quro dan putranya (Syekh Ban Tong), turun di daerah Karawang. Lalu Syekh Ban Tong menetap di Gresik, menjadi ulama dan pedagang.

Kemudian Syekh Ban Tong menikah dengan wanita keturunan Cina bernama Siu Te Yo. Dari pernikahan mereka, lahir seorang putri bernama Siu Ban Ci. Kenapa putrinya memakai nama marga sang ibu? I don’t know why…

Setelah Siu Ban Ci dewasa, dia menikah dengan seorang pangeran kerajaan Mojopahit, yaitu Kertabumi. Tapi nasib Siu Ban Ci kurang beruntung, saat sang suami menjadi raja Mojopahit (Brawijaya V Kertabumi), sang putri harus diasingkan ke Palembang. Hal ini karena Raja Kertabumi sudah menikah lagi dengan putri dari negeri Champa bernama Dwarawati yang sangat dicintai oleh sang raja. Sedikit kisah Dwarawati muncul juga dalam kisah Sunan Ampel (baca disini masjid-agung-sunan-ampel-dan-sejarahnya )

Singkat cerita, Ratu Dwarawati cemburu pada selir sang raja, yaitu Siu Ban Ci. Dalam kondisi hamil Siu Ban Ci dikirim ke kadipaten Palembang yang masih dibawah kekuasaan Mojopahit. Disana dia dititipkan pada adipati Palembang bernama Arya Damar. Arya Damar masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Raja Kertabumi.

Akhirnya lahirlah putra dari Siu Ban Ci, diberi nama Raden Fattah alias Jin Bun. Fattah berarti kemenangan, Jin Bun berarti orang kuat.

Setelah Rd Patah lahir, Siu Ban Ci menikah dengan Arya Damar. Dari pernikahannya lahir Raden Kinsan (Rd Kusen), sebagai adik tiri Rd Patah.

Dari kisah diatas, kita bisa beranggapan bahwa Rd Patah memiliki darah keturunan Mojopahit, Champa, Cina. Namun beliau juga memiliki kedekatan asal-usul dengan Palembang dan Gresik (koyok e kok mbulet yo).

Raden Patah menetap di Pulau Jawa


Setelah dewasa, Rd Patah dan Rd Kusen berlayar ke pulau Jawa, karena tidak mau menggantikan kekuasaan Arya Damar di Palembang, tapi lebih tertarik untuk mempelajari agama Islam kepada Sunan Ampel di Surabaya. Adapun Sunan Ampel adalah keponakan dari Ratu Dwarawati dari negeri Champa (Vietnam), jadi antara Rd Patah & Sunan Ampel masih punya hubungan kekerabatan (rasanya pada jaman itu, semua orang seperti masih bersaudara yahhh).

Tidak hanya berguru agama, Rd Patah juga menikahi salah satu putri Sunan Ampel, yaitu Dewi Murtasimah. Kelak Rd Patah memiliki 3 orang istri.

Setelah selesai nyantri di Surabaya, Rd Patah menetap di Glagah Wangi, pesisir utara Jawa Tengah. Awalnya adalah sebuah hutan rawa, dibangun menjadi pesantren, berkembang menjadi pedesaan.  Sedangkan Rd Kusen memutuskan untuk mengabdi pada kerajaan Mojopahit, akhirnya diangkat menjadi adipati di Terung (Krian-Jawa Timur).

Waktu berlalu, daerah Glagah Wangi semakin maju. Berita ini sampai juga pada Raja Kertabumi Brawijaya V dan ini membuatnya marah, karena kuatir timbulnya kekuatan baru yang bisa menyaingi Mojopahit. Rd Kusen diperintah untuk mengajak Rd Patah menghadap sang raja. Namun berkat nasihat dari Sunan Ampel, Raja Kertabumi mau mengakui bahwa Rd Patah adalah putranya, kemudian diangkat sebagai adipati di Glagah Wangi yang diganti nama menjadi kota Demak, dengan ibukota Bintoro (disebut juga sebagai Demak Bintoro). Disinilah awal mula berdirinya Kesultanan Demak, tahun 1475. Rd Patah menjadi sultan yang pertama bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Palembang Sayidin Panatagama.

Peta posisi kadipaten Demak, awalnya berada tepat di pesisir, namun kini jauh dari pantai (sumber : pendidikan4sejarah.blogspot.com)

Bersambung ... 

sultan-pertama-di-jawa-bag2

 

 

Tuesday, July 7, 2015

Kisah Ki Ageng Bungkul

Pintu gerbang kompleks makam Ki Ageng Bungkul



Assalamu alaikum wr wb.

Gimana kabar sobat pembaca semua? Semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan.
Setelah artikel sebelumnya membahas Sunan Ampel, kali ini blog Littlewawan akan menulis mengenai sosok Ki Ageng Bungkul, yang tidak terlepas kaitannya dengan Sunan Ampel.

Makam Ki Ageng Bungkul berada di Taman Bungkul – Jl Raya Darmo Surabaya. Taman ini digunakan sebagai public area. Masuk ke area makam melewati sebuah gerbang kecil di dekat area wisata kuliner. Kemudian di dalam kita akan melewati mushola dan rumah penjaga makam. Kemudian kita masuk lewat pintu gerbang lagi ke dalam makam beliau. Di dalam kompleksnya juga ada beberapa makam lainnya, yaitu makam keluarga dan santri Ki Ageng Bungkul.

Jalan masuk ke makam melewati area wisata kuliner Taman Bungkul


Siapakah sosok Ki Ageng Bungkul ?
Menurut cerita sejarah yang diyakini masyarakat, beliau adalah keturunan keluarga pejabat kerajaan Mojopahit. Nama beliau sebelumnya adalah Ki Ageng Supo alias Mpu Supo. Setelah memeluk Islam beliau berganti nama menjadi Ki Ageng Mahmudin. Beliau juga ikut menyebarkan agama Islam di Surabaya.
Alkisah Raden Rahmat dari kerajaan Champa datang ke Mojopahit, kemudian diberi tanah di daerah Ampel – Surabaya. Dalam perjalanannya Rd Rahmat sempat mampir ke kediaman Mpu Supo. Kemudian Rd Rahmat meneruskan perjalanannya lalu menetap di daerah Ampel, kemudian lebih dikenal sebagai Sunan Ampel.

Kisah Sunan Ampel baca disini. masjid-agung-sunan-ampel-dan-sejarahnya

Ki Ageng Bungkul memiliki putri bernama Dewi Wardah. Ki Ageng Bungkul ingin putrinya segera menikah, kemudian beliau memetik buah delima dari kebunnya, lalu dihanyutkan ke sungai Kalimas. Beliau bernazar bahwa siapa yang menemukan delima itu akan diangkat sebagai suami putrinya.

Esok harinya, beliau menyusuri Kalimas, lalu sampai di pesantren Sunan Ampel. Beliau menanyakan pada Sunan ampel siapa yang menemukan buah delima yang hanyut di sungai. Ternyata yang menemukan adalah seorang santri bernama Raden Paku.

Padahal Rd Paku sebenarnya akan menikah dengan putri dari Sunan Ampel, bernama Dewi Murtosiyah. Tapi Sunan ampel menganggap bahwa ini memang sudah suratan takdir, bahwa Rd Paku akan memiliki 2 istri, yaitu Dewi Wardah dan Dewi Murtosiyah. Kedua istrinya merupakan keturunan ulama terkenal.
Rd Paku selanjutnya dikenal sebagai Sunan Giri.

Demikian kisah  mengenai Ki Ageng Bungkul, semoga bisa bermanfaat buat sobat pembaca blog Littlewawan. Terimakasih.