Sunday, May 24, 2015

Touring to Goa Cina Beach

Pantai Goa Cina di Malang selatan, dengan banyak batu karang besar


Assalamu alaikum wr wb.

Gimana kabarnya sobat pembaca semua? Semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan selalu.

Kali ini blog Little Wawan akan menuliskan pengalaman perjalanan touring ke Pantai Goa Cina. Hmmm…. Pantai Goa Cina, dimana itu? pastilah masih banyak yang belum pernah mendengar namanya.

Pantai ini posisinya di Malang selatan-Jawa Timur, yaitu di wilayah Sumbermanjing Wetan, lumayan masih agak jauh dari Kota Malang sekitar 3-4 jam perjalanan.

Hari sabtu, 16 Mei 2015, jam 8 pagi, kita berangkat dari perumahan di daerah Lawang-Malang. Brooong-brooong…, let’s go. Neng Riris meluncur (Neng Riris adalah panggilan untuk mobil Yaris kesayangan). Melewati Singosari, Malang, menuju arah Turen. Jalan relative lancar. Karena hari libur, cukup banyak rombongan komunitas mobil dan motor yang melintas, seperti komunitas mobil Pajero, motor Ninja, dll. Sepertinya arah mereka menuju Pantai Sendang Biru atau Pantai Balekambang. Kenceng semua larinya, jossss….!

Setelah melintasi kota Turen, masuk ke wilayah Sumbermanjing Wetan, disini tantangannya mulai terasa bro. dari Turen didepan kelihatan bukit yang tinggi, tertutup oleh lebatnya hutan, nahhh pantai yang dituju ada dibalik bukit itu.

Mulai masuk hutan, jalanan menanjak. Jalannya juga berkelok-kelok. Gak tau deh ada berapa banyak kelokannya, yang pasti banyak banget. Disini keunggulan mobil tipe hatchback menunjukkan jati dirinya, jalan aspal yang berkelok-kelok bukan hambatan. Gas yang dalam, mainkan kopling ama persneling, main rem sedikit, setir dimainkan mengikuti arah jalan. Broooong…. Serasa di jalan bukit Akina di film Initial-D.
Begitu sudah sampai di ketinggian, mulai terlihat jurang yang menganga di tepi jalan. Pepohonan masih lebat. Kemudian jalan mulai berkelok-kelok turun. Terkadang terlihat perumahan penduduk desa.

Akhirnya kami sampai di sebuah pertigaan antara Pantai Sendang biru & Goa Cina. Tertulis ke lokasi yg dituju sekitar 5 km lagi. Tapi oh my God…, jalan di depan bukan aspal! Sepanjang 5 km adalah jalan batu dan tanah. Sepertinya di daerah itu awalnya bukit batu yang dicutting untuk dibuat jalan. Mungkin beberapa bulan lagi udah menjadi jalan aspal, I don’t know men. Kondisi jalan gini so pasti gak cocok buat Neng Riris yg merupakan mobil hatch back berbody rendah. Beberapa kali bagian bawahnya tergerus jalan tanah-batu yang bergelombang. G A L A U, bikin galau hatikuuu.

Jalan aspal pedesaan

Jalan aspal di dalam hutan bukit
 

Mulai memasuki jalan tanah-batu
Bersambung ke bagian-2.
touring-to-goa-cina-beach-2 

Tuesday, May 12, 2015

Pertempuran Surabaya & Museum Tugu Pahlawan (2)



Patung sosok proklamator Soekarno-Hatta di pintu masuk area Tugu Pahlawan



Sambungan  dari bagian-1.
Pertempuran Surabaya & Museum Tugu Pahlawan 

Masuk ke area monument, kita akan bertemu dengan patung proklamator Soekarno-Hatta. Di belakang patung ada pilar-pilar bundar yang seolah retak karena bekas pertempuran. It’s cool men, mengingatkan akan dahsyatnya pertempuran. 

Kemudian di belakangnya sudah terlihat tugu yang berdiri dikelilingi oleh taman. Areal lapangan luas dengan rumput yang menghijau. Di dekat tugu ada makam para pahlawan tak dikenal yang dimakamkan dalam 1 pusara. Salut untuk mereka. Di bagian pinggir lapangan, ada pedestrian yang rindang dengan pepohonan, adeeeemmm…. Saking ademnya banyak muda-mudi yang duduk berduaan, lagi ngapain? Gak ngerti aku. Mumpung gratis, murah meriah men!


Makam pahlawan tak dikenal

Di area ini juga ada patung Bung Tomo, tokoh pejuang yang terkenal pidatonya menggerakkan perlawanan rakyat Surabaya. Dipamerkan juga mobil kuno milik Bung Tomo. Ada juga patung Walikota Doel Arnowo, yang merupakan walikota Surabaya, tugu ini dikerjakan pada masa pemerintahan beliau. Patung Gubernur Soerjo, merupakan gubernur Jawa Timur yang menolak ultimatum Inggris.

Patung Bung Tomo

Patung Walikota Doel Arnowo

Patung Gubernur Soerjo
Hmmm... itu anaknya siapa ya? gayanya udah kaya' Bung Tomo berpidato
Lurus terus ke belakang, terlihat pintu masuk Museum 10 november. Setelah melewati pintu masuk, kita diarahkan turun ke lantai bawah melewati jalan melingkar dan escalator. Kemudian dari escalator, masuk ke koridor yang menuju hall museum. Di dalam hall lantai bawah dipajang berbagai macam foto-foto pejuang dan foto/lukisan pertempuran. Dari foto atau lukisan itu bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pertempuran yang terjadi, sehingga nyawa manusia seolah tiada artinya.

Mobil milik Bung Tomo - Ford Capitan


Seragam tentara pejuang

Foto Mayjen Sungkono
Betapa beruntungnya kita yang hidup di jaman damai ini.

Ada juga patung yang menggambarkan para pejuang menghadapi peperangan meskipun harus dibayar dengan nyawa. Patung diletakkan di tengah hall, diatas ukiran berbentuk bunga teratai (kenapa bunga teratai? I don’t know why…)

Patung pejuang pertempuran Surabaya

Ada ruangan khusus seperti bioskop kecil, dengan film jaman perjuangan, ada Bung Tomo dan penggambaran rakyat yang berangkat bertempur.

Di hall lantai atas ada macem-macem senjata yang dipakai seperti senapan, pistol, bambu runcing, juga ketapel (what????). bener-bener pemberani deh, pergi perang dengan ketapel. Kalo sobat pembaca, ada yang berani?

Salinan pidato Bung Tomo
Bambu runcing




Aneka macam senapan tua
Kemudian ada ruang diorama, di dalamnya ada diorama yang menggambarkan suasana saat itu. ada diorama perundingan Presiden Soekarno dengan tentara Inggris, diorama pertempuran markas Kempetai, diorama insiden Hotel Yamato, dll. Keluar dari hall museum, ternyata sekelilingnya ada koridor dan kolam ikan.

Diorama perundingan gencatan senjata

Diorama pertempuran

Diorama insiden bendera hotel Yamato

Diorama pertempuran

Menuju pintu keluar, naik ke lantai atas lewat escalator & lantai melingkar. Diluar terlihat bentuk Bangunan museum, yaitu berbentuk piramida dengan bagian atasnya memakai bahan semi-transparan sehingga sinar matahari masuk ke dalam. 


Atap hall museum
Di dekatnya ada panser dan meriam tua.

Kemudian kami keluar lewat pedestrian di samping lapangan menuju halaman parkir.

Demikian pengalaman kami mengunjungi Museum & Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Bila sobat luarkota yang kebetulan berkunjung ke Surabaya, silakan datang kesana, untuk menyegarkan memori jaman perjuangan kemerdekaan. Jas merah-jangan sampai melupakan sejarah! Iya kan bro?

Tugu Pahlawan, view dari pintu museum

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi. Semoga sobat pembaca diberikan kesehatan selalu, sehingga bisa terus mengikuti tulisan kami. 


Foto selvie dulu doooong ...

Amiiin. Wassalam.


Phone/Whatsapp : +6281331122195
Email : little.wawan@gmail.com
Twitter : @little_wawan
Facebook : littlewawanblogger


Tulisan sebelumnya :
touring to dalegan beach

Pertempuran Surabaya & Museum Tugu Pahlawan




Tugu Pahlawan , sebagai saksi sejarah pertempuran di Surabaya
Assalamu alaikum wr wb.

Gimana kabar sobat semuanya? Semoga bahagia dan sehat selalu, sehingga bisa menjalankan segala aktifitas dengan lancar.

Kali ini blog Little Wawan akan menuliskan mengenai Monumen & Museum Tugu Pahlawan. Pastinya sobat semua udah pada tau kan, apa itu Tugu Pahlawan yang ada di Kota Surabaya (ya iyalaaah, anak SD aja tau). Tapi mungkin banyak yang belum tau ada apa disana? So, let’s check this out bro.
Mari kita ulas sedikit mengenai sejarahnya (jangan sampe ngantuk lohhh, apalagi sampe pusing baca sejarahnya).

Pada akhir Perang Dunia II, Jepang menyatakan kalah terhadap pasukan gabungan tentara Sekutu. Bpk Ir Soekarno dan para pendiri bangsa memanfaatkan momen ini untuk menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Jepang, tanggal 17 Agustus 1945. Di berbagai wilayah Indonesia terjadi pertempuran dengan sisa-sisa tentara Jepang untuk melucuti persenjataan mereka.

Saat yang sama tentara Inggris, atas nama pasukan Sekutu, datang mendarat di Indonesia, bulan September-Oktober 1945, termasuk kota Surabaya. Tujuannya melucuti sisa-sisa tentara Jepang di Indonesia. Tetapi tentara Inggris diboncengi oleh pihak Belanda, yang punya tujuan ingin menjajah kembali bangsa Indonesia.
Pastilah, arek-arek Suroboyo yang terkenal keberaniannya bergejolak, sehingga terjadi pertempuran-pertempuran di Surabaya. Dipicu pula oleh pengibaran bendera Belanda di atap Hotel Yamato (atau Hotel Oranje) sehingga terjadi insiden perobekan bendera yang menimbulkan korban jiwa. Keadaan yang memanas bisa didinginkan oleh gencatan senjata yang diatur oleh Presiden Soekarno.

Tapi gejolak kembali terjadi setelah tewasnya Brigjen Mallaby di sekitar Jembatan Merah. Pihak Inggris mengeluarkan ultimatum, supaya para pimpinan dan orang bersenjata menyerahkan diri dan menyerahkan senjatanya, paling lambat jam 6 pagi 10 November 1945.

Wis geger tenan iki, mas bro! dar der dor! Duar!
Pertempuran kembali terjadi, karena milisi-milisi tidak mau menuruti ultimatum itu. diawali dengan pemboman dan penyerbuan oleh tentara Inggris sehingga merusakkan fasilitas kota Surabaya. Tetapi para pemuda sipil dan militer Surabaya tidak menyerah. Meskipun korban tewas cukup banyak (6000-16000 pejuang), itu tidak menyurutkan keberanian arek-arek Suroboyo.

Pihak Inggris mengira bahwa Surabaya bisa dikuasai dalam 3 hari, tapi ternyata mereka membutuhkan waktu 3 minggu. Meskipun akhirnya kota Surabaya bisa ditaklukan, tapi pertempuran ini memicu perlawanan terhadap tentara Inggris di kota-kota lain di Indonesia.

Itulah sejarah singkat mengenai pertempuran ’45 di Surabaya, semoga belum ada yang ketiduran yaaaa.
Tugu pahlawan dibangun untuk memperingati pertempuran tersebut. Tingginya 45 yard. Berbentuk paku terbalik, sisi-sisinya punya 10 lengkungan, badannya dibagi 11 ruas. Kalo diutak-atik akan keluar angka 10-11-45, yaitu 10 November 1945, tanggal awal pertempuran kota Surabaya.
Lokasinya ada di tengah kota Surabaya, di depan kantor Gubernur Jatim.


Maket lokasi Tugu Pahlawan dan sekitarnya

Monday, March 23, 2015

Touring to Dalegan Beach

Assalamu alaikum wr wb.

Bagaimana kabar sobat semuanya? Semoga selalu diberi kesehatan dan keberkahan sehingga lancar dalam segala urusannya.
Setelah sekian lama tidak menulis di blog, Little Wawan akhirnya mendapat kesempatan untuk meulis lagi. Yahh mumpung ada bahan tulisan baru juga.

Little Wawan kali ini akan menuliskan cerita perjalanan touring ke sebuah pantai di Jawa Timur, lebih tepatnya berada di Dalegan-Kabupaten Gresik. Keberadaan pantai ini sudah cukup dikenal bagi masyarakat Jatim, tapi masih banyak yang belum pernah mengunjunginya, termasuk penulis. (Ealahhh… ngakunya suka jalan-jalan, tapi masih banyak tempat wisata yang belum tau).

Hari minggu tanggal 15 Maret 2015, penulis bersama keluarga tercinta, merencanakan touring ini. Kendaraan yang dipakai yaitu ‘Neng Riris’, panggilan untuk mobil Toyota Yaris kesayangan (biar kaya’ orang-orang, kendaraan dikasih nama segala, hihihi….)

Foto dulu waktu mau berangkat

Jam 7.30 waktu Surabaya, ok let’s go! Sebetulnya agak molor dari jadwal, biasalah urusan rumah tangga, hihihi… Neng Riris distater, cekrik, brong-brong! Knalpot meraung (hehehe, gaya dikit, untung tetangga gak pada protes ama suaranya). Cuaca cerah cenderung panas. Segera meluncur menuju jalan tol Surabaya-Perak-Gresik. Jalan relative lancar. Tumben yahhh, biasanya hari minggu macet. Alhamdulillah.

View jalan tol

Dasarnya gak menguasai area gresik, keluar tol di Kebomas. Salah besar! Setelah bertanya pada mbak kasir Alfamart disarankan untuk menuju Manyar lewat GKB (Gresik kota Baru), ehhh… mbak kasirnya asli orang Gresik tapi wajahnya bening juga (hehehe…). Begitu masuk GKB, penulis malah merasa ini jalan bisa menghambat kecepatan menuju lokasi karena di dalam GKB lalu lintasnya padat. Atas kesepakatan bersama dengan ‘menteri keuangan’ mobil diarahkan kembali ke pintu tol. Selanjutnya menuju pintu tol Manyar. Ayo digaaaas! Brrroooooonnng! Wuuus!

View Jl Daendels

Keluar dari pintu tol Manyar kemudian mengambil arah menuju Paciran atau WBL (Wisata Bahari Lamongan). Jalan rayanya agak sempit, sehingga cenderung macet, meskipun mobil tetap bisa jalan. Dulunya jalan ini dinamai Jln Daendels. Hayo diingat lagi pelajaran sejarah mengenai Daendels. Sebelumnya sempet tanya ama warga setempat mengenai arahnya supaya tidak salah arah lagi. Di tepi jalan view-nya kebanyakan tambak, hutan, dan permukiman.


View jalan pedesaan

Sempat terjadi kemacetan karena ada kecelakaan, sepertinya truk tabrakan dengan sepeda motor. Setelah melewati lokasi kecelakaan kemacetan kembali terurai. Gasss brooo!
Kemudian ada papan petunjuk jalan bahwa arah pantai berbelok ke kiri. Jalan semakin menyempit, melewati pedesaan, tapi tetap beraspal. Jalan berkelok-kelok, sering bertemu dengan rombongan truk pengangkut batu kapur. Ternyata di sisi kiri jalan terdapat bukit kapur yang dijadikan tambang batu kapur. Setiap berpapasan dengan truk harus melambatkan kendaraan karena jalannya sempit.

Bertemu dengan pertigaan jalan. Setelah tanya dengan warga setempat, diarahkan untuk belok ke kiri. Tidak berapa lama, sudah terlihat lautnya di sebelah kanan. Airnya berwarna biru kehijauan dan terlihat jernih. Akhirnya kita hampir sampai tujuan.

Jalan berkelok-kelok, tapi belum ketemu juga dengan kawasan wisatanya. Agak pelan-pelan aja, sambil mengamati papan-papan petunjuk. Dan akhirnya kita sampai di kawasan wisata Pasir Putih Segoro Indah Dalegan-Panceng. Waktu menunjukkan jam 10.30 waktu Gresik. Alhamdulillah….

Di tepi laut

Parkir di pantai

Neng Riris masuk area parkir mobil. Ternyata sudah banyak mobil yang parkir. Tempat parkirnya langsung menghadap ke laut. Keluar dari mobil, angin laut menyambut membawa aroma khas daerah pantai. Pasirnya berwarna putih dan cukup bersih. Air laut cukup jernih, warnanya biru kehijauan, ombaknya tenang. It’s beautiful meeeen …. Di sisi kiri dan kanan pantai, ada tumpukan batu karang yang menjorok ke laut. Batas antara pantai dan parkir ditanami pepohonan sehingga cukup rindang.


View pantai

Di area parkir dilengkapi kedai-kedai makanan, sehingga pengunjung tidak perlu takut kelaparan (makanan itu penting, bro). selain itu juga banyak tempat mandi/toilet, buat yang ingin mandi sehabis bermain di pantai.
Di area pantai ada persewaan ban bekas untuk pelampung, persewaan perahu kano, juga jual layang-layang. Angin pantai cukup keras memang cocok untuk bermain layang-layang.


View pantai
Bermain air
Bermain layangan

Setelah cukup bermain air, bermain layangan, juga berfoto (pastilah … ) kami pun bersiap pulang. Waktu menunjukkan jam 13.30. rute yang dilewati yaitu rute yang sama dengan berangkatnya.
Demikian tulisan mengenai catatan perjalanan touring ke pantai Dalegan.

Semoga bisa berguna buat yang sudah membacanya. Semoga kami sehat selalu sehingga bisa mencari sumber-sumber inspirasi untuk bahan tulisan selanjutnya, dan sobat pembaca semuanya diberikan kesehatan untuk terus menyimak tulisan kami.

Amiiin. Wassalam.


Phone/Whatsapp : +6281331122195
Twitter : @little_wawan
Facebook : littlewawanblogger